Tampilkan postingan dengan label Others. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Others. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Chusnul: Ini Akibatnya Kalau Sarjana Pertanian Jadi Ketua KPU

Chusnul: Ini Akibatnya Kalau Sarjana Pertanian Jadi Ketua KPU


JAKARTA - Proses Pilpres 2014 menyisakan permasalah yang saat ini sedang diperdebatkan di Mahkamah Konstitusi (MK). Mantan Ketua Komisioner Pemilihan Umum (KPU) Chusnul Mar'iah menuding ini akibat jika penyelenggara pemilu dipimpin oleh Husni Kamil Manik yang merupakan seorang sarjana pertanian.

"Harusnya KPU itu dipimpin oleh orang yang memiliki latar belakang ilmu politik dan hukum.
Kalau sarjana pertanian ya ibarat menanam jagung di kebun kita," kata Chusnul dalam diskusi bertema "Apakah Pilpres akan Menuai Malapetaka Bangsa," di Cikini, Jakarta, Senin (18/8/2014), seperti diberitakan okezone.

Menurut dia, anggapan "menanam jagung di kebun kita" adalah kesalahan terbesar Husni saat menyusun Daftar Pemilih Tetap (DPT). Saat itu, dia menjalin kerjasama dengan pihak asing dalam hal ini International Foundation for Election System (IFES).

Padahal, 2004 KPU bersama BPS mengerjakan DPT dengan anggaran Rp427 miliar. Kemudian 2009 diubah datanya melalui pemutakhiran data dengan anggaran Rp3,8 trilun.

Sekarang, diubah lagi proyeknya diberi nama e-KTP, dengan anggaran Rp5,8 triliun. KPU minta data lagi Rp1,7 triliun untuk memperbaiki data dari Kemendagri yakni 190 jutaan data pemilih menjadi 180 juta lebih.

"Pertanyaanya punya dana Rp1,7 triliun diberikan kemana proyeknya? Jawabannya sempat rame yaitu IFES dari Washington sana. Harusnya ini privasinya ada bukan diberikan ke asing," tegasnya.

Bahkan, Chusnul menganggap Ketua Bawaslu yakni Muhammad, lebih kompeten dan pantas menjadi Ketua KPU. "Bagi saya Muhammad, lebih pantas jadi Ketua KPU dibanding sekarang. Kalau yang sekarang kan S1-nya sarjana pertanian," tuntasnya.

http://www.pkspiyungan.org/2014/08/chusnul-ini-akibatnya-kalau-sarjana.html

Sabtu, 23 Agustus 2014

Yusril Ungkap Rekayasa Hasil Pemilu

Yusril Ungkap Rekayasa Hasil Pemilu


Yusril Izha Mahendra, pakar hukum tata negara yang menjadi saksi ahli dalam sengketa pilpres di Mahkamah Konstitusi beberapa waktu lalu memaparkan mengenai rekayasa hasil pemilu dan lembaga survei pada pemilu di Indonesia melalui akun Twitternya.

“Saya ingin menuliskan tentang lembaga survei Pemilu yang akhir-akhir ini sering menghebohkan dunia politik kita. Kita sudah tahu-sama-tahu bahwa lembaga-lembaga survei yang menjamur itu bukanlah lembaga yang murni akademis, tetapi lembaga profesial yang komersial. Tidak saya pungkiri bahwa dalam bekerja, lembaga-lembaga survei itu menggunakan metode-metode akademis. Namun aspek komersialnya tidak dapat diabaikan pula.

Partai politik atau politisi yang akan berkompetisi, sudah lazim meminta lembaga survei melakukan kegiatannya. Tujuannya bukan semata-mata untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan dirinya, tetapi juga untuk membentuk opini publik.

Tidak jarang suatu lembaga survei sdh menandatangani kontrak dengan partai politik atau politisi untuk jangka waktu tertentu. Besarnya nilai kontrak tentu sesuai kemampuan partai atau politisi yang bersangkutan. Makin besar uang, makin canggih lembaga surveinya.

Biasanya laporan hasil riset ada 2 macam. Satu yang benar, hanya untuk kepentingan internal; dan yang tidak benar, untuk kepentingan publik. Hasil survei yang tidak benar dan disulap itulah yang dijadikan konsumsi untuk memengaruhi opini publik.

Hasil survei yang disulap itu dipublikasikan secara luas melalui jaringan media sehingga menjadi kontroversi. Hasil survei yang disulap itu bisa dijadikan sebagai bagian dari upaya kecurangan pemilu secara sistemik. Melalui pengumuman hasil survei yang meluas itu, pelan-pelan opini publik akan terbentuk, mana partai atau tokoh yang unggul, mana yang memble.

Kalau opini sudah terbentuk, langkah selanjutnya merekayasa perolehan suara agar pas seperti hasil survei. Banyak cara dapat dilakukan untuk merekayasa perolehan suara. Langkah pertama dimulai dari penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Makin kacau dan tidak akurat DPT, rekayasa akan makin mudah. Surat suara yang berlebih, bisa dicoblos sendiri untuk menangkan suatu parpol.

Berbagai trik untuk mengatur perolehan suara dilakukan sejak dari tingkatan TPS (lokasi), PPS (Desa/Kelurahan), PPK (Kecamatan) sampai Kabupaten/kota. Luasnya wilayah negara kita membuat pengawasan penghitungan suara menjadi sangat sulit dan rumit. Ada potensi untuk curang disini.

Tiap kali Pemilu, Teknologi Infoemasi (IT) Komisi Pemilihan Umum selalu ngadat, pengumpulan suara lamban dan membosankan. Keadaan ini membuat orang lelah, apatis dan akhirnya putus asa serta tidak perduli lagi. Dalam keadaan seperti itu, praktik jual beli suara, transaksi pemindahan suara dari 1 parpol ke parpol lain terjadi dengan mudahnya.

Siapa yang dapat melakukan kecurangan seperti ini? Yang dapat melakukan kecurangan sistemik seperti itu hanya mereka yang kuat secara politik, birokrasi dan finansial. Akhirnya Pemilu ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Suara rakyat dipermainkan dan dimanipulasi. Kedaulatan rakyat hanyalah mimpi.

Akhirnya apa yang terjadi? Hasil akhir pemilu persis seperti hasil survei yang sebelumnya sudah dicekokkan kepada public. Rakyat pun akhirnya dapat menerima urutan pemenang pemilu, toh sudah cocok dengan hasil survei jauh hari sebelum pemilu yang sudah ada di otak mereka. Kalau demikian, maka bukan lembaga survei itu yang canggih bisa memprediksi hasil Pemilu. Tapi sebaliknya, hasil pemilu yang direkayasa secara sistemik agar hasilnya sesuai dengan hasil survei. Semoga mencerahkan mengenai sisi lain survei dan hasil Pemilu di negeri yang makin antah berantah ini.” tutupnya. (sumber: kabarnet)

http://www.pkspiyungan.org/2014/08/yusril-ungkap-rekayasa-hasil-pemilu.html

Selasa, 22 Juli 2014

Indonesia baru...? Atau tambah hancur.... pencitraan memang mudah dimanipulasi dan memanipulasi pikiran (2)

Kembali membahas pilpres 2014.
Yang rasanya terlalu banyak jiwa yang terlibat, baik emosi, pikiran dan perbuatan.
Rasulullah mengajarkan kita memilih pemimpin, jadi untuk memilih dalam pemilu hukumnya wajib.
Jadi jangan pernah golput untuk alasan apapun.
Anehnya, begitu banyak yang terlibat, tapi toh masyarakat juga gak pernah merasa yakin 100% bahwa pilihannya itu adalah benar karena petunjuk dari Allah SWT.
Kenapa dikatakan demikian, karena sebelum mencoblos mungkin hanya sekitar 3-5% saja yang melakukan sholat istikharah dari seluruh umat muslim yang terdaftar sebagai Islam di KTP-nya.

Sisanya...? Yang mungkin adalah gak sholat istikharah, hanya termakan informasi dari media yang belum tentu benar isinya. Media yang hanya membela salah satu capres.
Betapa banyak dari kita yang isinya menforward link tertentu dari media internet tertentu diiringi komentar pribadi untuk menggiring opini teman-teman, kerabat atau saudaranya agar menyetujui dan kemudian mengikuti apa yang dia pikikan.
Sungguh suatu cara yang nggak bener juga sebenarnya..
Memang hak asasi manusia untuk memforward link-link dari media tertentu. Tapi secara gak sadar yang memforward juga ikut tergiring opini dan pemikirannya.
Ketika dia memforward link-link itu, dia telah termakan opini dari media itu yang bisa saja hanya hanya mendukung capres tertentu

Ketika dia katakan bahwa link-link itu fakta, darimana dia tahu itu fakta ? Apa yang foward link tahu persis dan melihat sendiri ? Apa dia punya bukti otentik ?
Apa dia juga mengalami apa yang ada di forward link itu ? jawabannya saya yakin 1000% >> TIDAK
Kenapa kok dia berani memforward link-link itu di page-nya ? jawabannya hanya satu : Opininya sudah tergiring oleh media itu.
Sehingga capres yang didukungnya makin 'populer' makin 'terkenal' makin 'naik rate-nya'
Padahal siapa sih dia yang suka memforward itu ? TIM SUKSES ? Saudara ? Kerabat ? Kroni ? Simpatisan ? Jawabannya ada pada diri masing-masing.
Tapi pasti dalam hati hanya menjawab : bukan siapa-siapa.
Jadi apa dong tujuan dia melakukan forward >> Menggiring opini masyarakat, baik sadar ataupun tidak.
Dapat apa dia dari forward link >> Tanyaken sama yang forward link ... saya kembali yakin jawabannya nggak berani ditujukan.
Karena bisa jadi dia gak dapet apa-apa, hanya kepuasan batin.

Bersambung ke tulisan ke-tiga

Minggu, 20 Juli 2014

Indonesia baru...? Atau tambah hancur.... pencitraan memang mudah dimanipulasi dan memanipulasi pikiran (1)

Baru kali ini rasanya pilpres begitu menegangkan. Setelah adanya perbedaan hasil quick count. Dan betapa arogannya kubu capres no.urut 2 yang seolah sudah menang dan jadi presiden. Sampai semua pendukungnya seolah euforia mengatakan kemenangan. Bahkan menjelekkan kubu sebelah, seolah mereka pemenang dan kelompok yang kalah akan disakiti.

Penyelenggara pemilu (KPU) bahkan menghimbau masyarakat untuk tidak saling menghujat....toh hasil real count akan diumumkan tanggal 22 Juli 2014. Waktu yang lama sejak pilpres tanggal 9 Juli 2014.

Banyaknya arus informasi yang membuat pilpres kali ini terasa seperti perang diantara pendukung. Pada awalnya saya nggak ingin ikut terlalu dalam. Tapi semakin kesini,kok makin ada benarnya informasi yang sebelumnya saya gak dapet.

Antara lain capres no.urut 2 ini begitu mengagungkan pencitraan. Banyak rakyat dibodohi oleh citra dirinya yang seolah jadi malaikat. Sebeeeeellll....
Sementara, rakyat yang begitu mudah dibodohi, seakan yakin bahwa mereka seolah telah memilih malaikat....padahal.....ampuuun deee

Capres no.2 ini punya program Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat...Padahal pengelolaan Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat saja masih kacau balau....kok mau memberikan dalam skala nasional.
Belum lagi kalau pidato tidak pernah bisa lebih dari 5 menit....Gubraaakkksss.....
Visi misi yang nggak jelas dan mengambang dalam jawaban setiap debat capres.
Gak habis pikir, gimana kalau ketemu pemimpin dunia....jawaban englishnya hanya "I dont know" and "I don't think about that" ....paraaaahhh
Disisi lain, ada latar belakang keluarga yang kurang baik karena tersangkut dengan partai yang terlarang di Indonesia.


Hal terakhir ini bikin saya takuuut.....takuuuuuuuut bangeet...

Gak bisa tidur ngebayangin kalau itu terjadi...ideologi dikesampingkan....atau diganti..

Semoga Allah selalu melindungi bangsa Indonesia dari kepungan orang-orang jahat yang ingin berkuasa dan menjauhkan orang-orang jahat itu dari bumi Indonesia selamanyaa,, Aamiin Yaa Rabbal Alamiin

Bersambung ke tulisan kedua...

Minggu, 13 Juli 2014

Timses Prabowo-Hatta akan Polisikan Burhanuddin Muhtadi

Sabtu, 12 Juli 2014

Jakarta - Kubu pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa akan mempolisikan Direktur Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi. Sebab, Burhanuddin dianggap telah bertindak provokatif terkait hasil Pilpres 2014.

Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon mengatakan, Burhanuddin telah melanggar hukum terkait pernyataannya yang menuding Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Pernyataan Burhan itu provokasi dan melanggar hukum, maka besok atau lusa akan kita laporkan kepada pihak kepolisian," ujar Fadli seusai Rilis Update Real Count Internal Prabowo-Hatta di Rumah Polonia, Jakarta, Jumat (11/7/2014).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu juga menegaskan akan melaporkan tindakan kriminal, kecurangan dan intimidasi tersebut ke kepolisian. Menurutnya, laporan itu sebagai jalur atas kepatuhan terhadap hukum yang berlaku di tanah air.

"Melaporkan kepada polisi adalah cara yang beradab tidak perlu ada pengepungan dan penyerangan, tujuannya supaya ada pembelajaran dalam proses berdemokrasi kita, jadi orang tidak seenaknya bicara gitu," imbuhnya.

Seperti diketahui sebelumnya pada acara konferensi pers Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi), Burhanuddin Muhtadi mengatakan, kalau ada perbedaan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan hasil quick count lembaga survei yang menangkan Jokowi-JK maka KPU yang salah dan ada kecurangan.

Burhanuddin juga mengatakan "Kalau hasil hitungan resmi KPU nanti terjadi perbedaan dengan lembaga survei yang ada di sini, saya percaya KPU yang salah dan hasil hitung cepat kami tidak salah," kata Burhanuddin. [mes/inilah]

Lucunya C1 Jokowi-JK

Sabtu, 12 Juli 2014

Kisah dari seorang saksi PPS di Jakarta :

Di kecamatan Saya terdapat 7 Kelurahan atau 7 PPS (tingkat kelurahan).

Ketika Rekapitulasi di PPS (tingkat kelurahan) Tim Saksi Prabowo-Hatta membawa data C1 lengkap...

Tim Jokowi-JK sama sekali tidak bawa C1...hanya terlihat catatan2 lecek dan pulpen...dan ini terjadi di 7 Kelurahan...

Nah kalo Tim Jokowi-JK bisa input C1...C1 dari mana ya...???

Faktanya hampir semua rekap di PPS di Jakarta Saksi Jokowi-JK tidak punya C1...
Hehehe...

Apalagi ada kejadian lucu dimana saksi PPS Jokowi-JK dgn malu2 bertanya kepada saksi Prabowo-Hatta : "Mas mau tanya...apa bedanya "pleno" dengan "plano" wkwkwkwk...

Atau ada kejadian lucu juga ketika saksi Prabowo-Hatta banyak memprotes kejanggalan2 yg ditemukan dalam Rekap C1...saksi Jokowi-Jk protes; "kok Saksi Prabowo-Hatta terus yg protes?" Hehehe..
Dijawab sama Ketua PPS : "ya silakan Anda protes kalau Anda punya data pembanding..." saksi Jokowi-Jk diem dan merah raut wajahnya...krn mereka tdk punya data pembanding...

Atau kejadian lucu lagi ketika PPS terpaksa bongkar kotak suara krn perbedaan data C1...Saksi Jokowi-JK tanya : "Kok dibongkar emang knapa?" Hehehe...begitulah kalau ngga punya data...

Yaa...begitulah...lucunya C1 :)))

DPR Minta KPU Laporkan Burhanudin ke Polisi

Sabtu, 12 Juli 2014

Pernyataan Burhanudin Muhtadi yang dianggap menghina Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak bisa dibiarkan. Pernyataan itu adalah bukti pelecehan dan pencemaran nama baik penyelenggara pemilu.

"Ini harus dimejahijaukan," imbuh Wakil Ketua Komisi III DPR, Almuzzammil Yusuf, saat dihubungi, Sabtu (12/7). 

Menurutnya, pernyataan Direktur Eksekutif Indikator Politik itu merusak KPU sebagai lembaga negara. Padahal, KPU merupakan lembaga yang kredibel dalam penyelenggaraan pemilu. Karena merupakan satu-satunya lembaga yang diberikan mandat untuk melakukan rekapitulasi suara.

Bayangkan, katanya, saat penghitungan semua saksi dipanggil dan diajak mengesahkan perolehan suara bersama-sama. "Quick count tidak seperti itu. Hitung cepat itu sepihak," imbu politikus PKS tersebut.

Ia pun berpesan kepada KPU untuk tidak segan melaporkan Burhanudin ke Bareskrim Polri. Karena yang dikatakan Burhanudin dinilainya sudah melanggar hukum. "Tidak bisa dibiarkan."

Beberapa waktu lalu, Burhanudin menyatakan hitung cepat yang dilakukan lembaganya sudah benar dan tepat. Bahkan, kalau ternyata hasil real count berbeda, maka KPU pasti salah. (ROL)

Quick Count Jokowi Menang Pilpres Bagian Manipulasi Terencana

Jumat, 11 Juli 2014

Jokowi diklaim menang Pilpres 2014. Ada beberapa indikasi yang menguatkan klaim yang didasarkan pada hasil quick count atau hitung cepat beberapa lembaga survei ini menjadi bagian dari upaya manipulasi terencana untuk memenangkan Jokowi.

Peneliti opini publik, Agung Prihatna, mengungkap beberapa keanehan yang menguatkan dugaan tersebut. Keanehan bisa dilihat dari perkembangan beberapa hari sebelum dan beberapa jam setelah Pilpres digelar.

Menurut mantan Peneliti LP3ES dan perintis quick count pada Pemilu 1997 itu, di masa tenang tiga lembaga survei mengumumkan Jokow-JK unggul 3 persen dari Prabowo-Hatta. Mereka menyatakan bahwa ada ‘Lampu Kuning’ bagi Jokowi jika keadaan tidak berubah karena trend Jokowi terus menurun sementara trend Prabowo terus naik. Saat kesimpulan ini disampaikan selisih Jokowi dengan Prabowo semakin dekat, tinggal 3%. Ketiga lembaga survei ini adalah Indobarometer, Lingkaran Survei Indonesia, dan Charta Politica.

"Tapi anehnya, tiga hari setelah pernyataan tersebut lembaga survei-survei itu mengeluarkan pernyataan bahwa terjadi rebound. Ini artinya dalam waktu 3 hari pengakuan mereka terjadi perubahan trend. Padahal dalam logika survei, trend itu tidak mungkin berbalik hanya dalam waktu 2-3 hari," ujarnya kepada redaksi sesaat lalu (Kamis, 10/7).

Skenario lanjutan terjadi di hari pemilihan. Menurut Agung, kelompok lembaga survei yang pimpinannya secara terbuka berafiliasi ke pasangan Jokowi-JK mengeluarkan hasil exit poll yang menyatakan Jokowi-JK unggul 3 persen dari Prabowo-Hatta. Lembaga survei tersebut antara lain CSIS-Cyrus, LSI, SMRC, Litbang Kompas, dan RRI.

Menurut Agung, hasil exit poll memenangkan Jokowi-JK yang tak jauh beda angkanya sangat mungkin dilakukan. Hal itu terjadi karena penyelenggara survei sepakat menggunakan sample yang sama dalam quick count untuk menghasilkan hasil quick count yang sama. Selain itu, proses pengumpulan data dari hasil pengiriman SMS di TPS saat berada di database dimungkinkan untuk terjadi intervensi oleh petugas quick count yang bisa menghasilkan angka yang menguntungkan.

Dugaan manipulasi diperkuat terkait manuver sebelumnya. Pihak Jokowi sepekan sebelum Pilpres digelar menyatakan bahwa kemenangan mereka akan sulit jika pihak lawan melakukan kecurangan. Pernyataan ini antara lain disampaikan oleh JK. "Ini merupakan prakondisi yang dilakukan kubu Jokowi-JK bahwa di atas kertas mereka bisa kalah," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan di Pilpres 2014 pertama kalinya ada pihak yang secara sepihak mengklaim kemenangan berdasarkan hasil quick count yang baru mencapai 70 persen. Yang bikin aneh pula, sekitar jam 15.00 WIB atau 2 jam setelah TPS ditutup, lembaga-lembaga survei itu mengklaim data quick count sudah masuk sebesar 70 persen.

Menurut dia cara kerja seperti ini sangat di luar logika. Sebab sample di daerah pelosok seperti Papua, Medan, Sumatera dan pulau lainnya butuh waktu 1-3 jam untuk bisa dilaporkan melalui sms di area on spot atau daerah yang terdapat sinyal mengingat tidak semua daerah yang ditentukan sebagai zona sampling terdapat sinyal operator telepon selular. Masalah lainnya, jika benar dikatakan data masuk 70 persen selang 2 jam setelah TPS ditutup, bukan kah kemungkinannya adalah sample ditarik semua ke daerah perkotaan sehingga sebenarnya nihil sampling dari desa atau wilayah pelosok.

"Sebelumnya dalam berbagai momen Pilkada biasanya yang terjadi adalah pengakuan dari pihak lain terhadap keunggulan pasangan lainnya. Tidak pernah salah satu pihak melakukan klaim kemenangan berdasarkan hasil quick count," demikian Agung. [dem]

Mahfud MD Beberkan Kelicikan Kubu Jokowi-JK

Jakarta - Ketua tim pemenangan Prabowo-Hatta, Mahfud MD, mengatakan tim Jokowi-JK telah melakukan kecurangan. Deklarasi kemenangan yang mereka sampaikan, lanjut Mahfud, merupakan sebuah upaya mengecoh masyarakat.

"Rakyat ditipu oleh opini. Kita tidak melakukan itu. Kita menang telak di Jawa Barat. Sumatra utara dan barat kita menang. Kita siap mengadu data C1 tiap TPS," kata Mahfud di Jl. Kertanegara nomer 4, Jakarta, Rabu, 9 Juli 2014.

Mahfud menjelaskan Jokowi-JK mengumumkan kemenangan pada posisi suara masuk 73 persen. Sedangkan Prabowo-Hatta mengumum pada posisi 90 persen.

"Dari malam kita mendengar strategi licik mereka yang akan mengumumkan pada posisi selisih 5 Persen. Kami merasa dicurangi. Bisa saja kami umumkan lebih awal saat suara 65 persen. Kami pasti menang," katanya.

Selain itu mantan ketua MK ini mengatakan timnya menemukan seprti adanya upaya rekayasa cyber dalam penghitungan cepat ini.
"Kami menduga ada upaya untuk merekayasa hitung cepat ini," tegasnya.

Sementara itu sekertaris tim pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon mengatakan adanya upaya licik yang disampaikan oleh pihak Lawan terhadap Prabowo-Hatta. Upaya ini sudah diketahui langsung oleh tim.

"Saya baru telepon Gubernur Jawa Barat. Kita menang 61 persen. Sumatra Utara kita menang 62 persen. Sumatra Barat kita unggul 79 persen. Pak de Karwo terakhir dihubungi dia bilang Prabowo-Hatta menang di Jawa Timur 51 persen," jelasnya.
Oleh karena itu tim Prabowo-Hatta meminta semua anggota tim koalisi melakukan pengetatan pengawalan suara mulai dari C1 ditiap TPS.

"Kita nanti akan buka semua di KPU. Kita menang dan akan diputuskan KPU tanggal 22 Juli," tegas dia. (ren/VIVAnews)

http://www.pkspiyungan.org/2014/07/mahfud-md-rakyat-ditipu-opini-dan.html#

Minggu, 06 Juli 2014

Melawan Lupa (9): PKI, Jokowi & Hendropriono Telah Menyandera Megawati

JAKARTA (voa-islam.com) - Jokowi, Sudjiatmi dan PKI Menyandera Megawati. Anda bisa menerka alur tulisan ini?

PKI Sudah kembali eksis di Indonesia.....
Awalnya Megawati tak menyetujui Jokowi menjadi Capres PDIP, akan tetapi karena ancaman faksi komunis di PDIP memaksa Megawati mengangkat Jokowi meski ia tidak pernah menerbitkan SK DPP PDIP untuk capreskan Jokowi. Hanya melalui perintah harian.
Sebagaimana publik ketahui, Megawati tidak pernah terlihat ikut dalam kampanye mendukung capres Jokowi. Megawati bersikap pasif, Megawati selalu ejek dan sindir Jokowi sebagai benteng kurus yang lapar. Megawati selalu ketus jika bicara tentang Jokowi : "Jokowi itu kan maunya kalian. Ya sudah. Suka hati kalian"
Fakta lain bahwa Jokowi pernah diusir dua kali dari rumah Megawati. Yang pertama diusir oleh Puan pada 9 April 2014.
Isu yang beredar faksi Parkindo dan Komunis di PDIP memegang video rahasia yang jika dibuka akan jadi aib besar Megawati dan keluarga. Megawati mustahil dukung Jokowi karena dia tahu siapa Jokowi dan dibaliknya. Jokowi menang, faksi komunis /PKI akan kuasai RI dan PDIP
Posisi Megawati saat ini terjepit, dikepung oleh faksi Parkindo, Komunis dan Katolik. Faksi Nasionalis dan Islam dihancurkan di PDIP. Megawati sekarang sedang mau dikudeta via kongres PDIP yang dipercepat. Maruara Sirait pentolan faksi kristen, ancam Puan minggu lalu di rumahnya.
Kenapa Faksi Komunis, Kristen dan Katolik bisa bersatu saat ini? Hanya sementara. Untuk kepentingan taktis menangkan Jokowi dan gusur Mega. Faksi Katolik didukung JK, Vatikan, Konglo-konglo cina katolik, pengusaha pribumi katolik. Faksi kristen didukung mafia cina pimpinan James Riady dan Luhut Panjaitan.
Tujuan mereka menguasai PDIP adalah sebagai kendaraan politik untuk kuasai Indonesia. RI mau dijadikan negara sekuler. Didukung oleh Barat & China. Australia juga sangat berkepentingan dengan sekulerisasi RI. Agen australia di RI namanya hendropriyono, sukses tanam ahmad fatonah di PKS.
Fatonah ditanam hendropriono di PKS, fatonah bernama asli Ahmad Olong, narapidana di LP Berramah, Australia.
Sekarang komposisi pengurus harian DPP PDIP 27 orang. 13 Komunis/Kristen/katolik dan 13 Islam = 26 plus 1 Megawati. Komposisi pengurus harian DPP PDIP yg 13:13:1 itu adalah atas usulan Alm Taufik Kemas. Sekarang komposisi itu mau diubah. Pengurus Harian DPP PDIP skrg mau diubah : 5 nasionalis, 2 Islam, 1 Murba, sisanya Komunis, Parkindo, Katolik = 19.  PDIP mau kemana?
Australia rekrut Hendropriono sebagai agen mereka paska bom bali. 88 Warga Negara Asutralia mati. Australia bantu bentuk densus 88 anti teroris. Hendro sekarang adalah majikan Jokowi. Hendro pegang data keterkaitan Jokowi dan ibunya dengan PKI. Hendro dan Luhut akan menjadi dewa di RI dan PDIP jika jokowi menang pilpres.
Hendropriono pegang data keterkaitan Jokowi dan ibunya dengan PKI. Hendro dan Luhut akan menjadi dewa di RI dan PDIP jika jokowi menang pilpres.
Hendro dan luhut juga yang sebabkan TNI tercabik-cabik dan para purnawiran saling hantam. Untuk melemahkan TNI, agar komunis bisa berkuasa. Meski faksi kristen dan faksi katolik / faksi komunis tidak akur di PDIP, tapi sekarang mereka bersatu untuk hancurkan Mega, nasionalis dan Islam.
Faksi Nasionalis dan Islam di PDIP adalah faksi miskin, tidak punya uang dan sudah dirusak habis oleh musuh-musuh mereka : komunis, katolik, kristen protestan. Jangan anda salah paham, penghancuran nilai-nilai Islam pada kasus LHI terkait dengan rencana besar sekulerisasi RI dan pertarungan di PDIP.
Kasus LHI yang dibonceng politainment dan caci maki terhadap Islam, simbol-simbol Islam, tokoh Islam, pks itu terkait pencapresan Jokowi.
Rakyat indonesia khususnya umat Islam dicuci otaknya agar benci dengan tokoh Islam, muak dengan simbol-simbol Islam agar Jokowi yang komunis itu menang.
Budiman Sudjatmiko & Communist Connection
Selain Hendropriono yang mengusung kepentingan Australia di Indonesia dan PDIP, juga ada Budiman Sudjatmiko. Budiman Sudjatmiko mantan ketua PRD berhaluan komunis itu punya hubungan erat dengan Partai Komunis Australia. Hubungan Erat Partai Komunis Australia dengan komunis Indonesia/PKI sudah terbina sejak tahun 1950an, sekarang dibangun besarkan Budiman Jatmiko. Beberapa pekan lalu, Budiman Sudjatmiko juga ke Timor Leste menemui Mari Alkatiri tokoh partai komunis Fretilin Timor Leste untuk dukung Jokowi.
Sebelumnya, tokoh faksi komunis di PDIP seperti Eva K sundari, Ribka Tjiptaning dan puluhan elit PDIP studi di Partai Komunis China. Eva Kusuma Sundari pimpinan delegasi PDIP akui bahwa kader PDIP yang belajar di sekolah partai Komunis itu merupakan angkatan ketiga.
Selain Eva ada Komisi III DPR, kader PDIP lainnya studi komunis PKC lain Vanda Sarundayang (komisi VI DPR RI, Ketua Taruna Merah Putih Sulut) Kader faksi komunis PDIP Bupati Ngawi Budi Sulistyo, Bupati Flores Timur Yoseph l Herin, dan Ketua DPRD Semarang Bambang Kusriyanto.
Bahayanya adalah Eva K Sundari yang PKI Lovers itu, juga adalah Departemen Kaderisasi Departemen Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan” Akibatnya, banyak elit PDIP dicecoki paham komunis via program pengkaderan PDIP. Kerjasama partai komunis China, tujuannya : komunisasi PDIP. Tahun depan akan berdiri sekolah partai PDIP yang materinya lebih banyak disusupi paham komunisme internasional.
Tahun 2015 CAFTA = China Asean Free Trade Area berlaku.
RI bebas dimasuki siapa saja dari china. Ideologi komunisme akan jadi ekspor utama.
Komunisme Rusia sudah menguat lagi dan sudah kuasai militer Rusia. Terbukti dengan keberanian Rusia serang Ukraina dan tantang Nato. Komunisme Indonesia hidup lagi, bangkit lagi, dipimpin oleh Jokowi dengan cara menyaru sebagai tokoh lugu, Islam, jujur, sederhana dan merakyat = BOHONG BESAR.
Komunisme Indonesia hidup lagi, bangkit lagi, dipimpin oleh Jokowi dengan cara menyaru sebagai tokoh lugu, Islam, jujur, sederhana dan merakyat = BOHONG BESAR.
Identitas dan riwayat Hidup Jokowi = PALSU. Tanggal lahirnya pun PALSU ..dibuat sengaja sama degan kematian Bung Karno. Ayah Jokowi dan Ibu Jokowi = Palsu . Banyak informasi sebenarnya yang ditutupi. Bahkan prestasi Jokowi = PALSU 
Prestasinya hancur lebur, ditutupi penghargaan-penghargaan palsu oleh media-media bayaran dan milik elit parkindo, faksi katolik cs.
Hanya elit Katolik tertentu yang dukung Jokowi setelah tahu benang merah Jokowi dengan PKI. Faksi Katolik di PDIP awalnya tidak tersusupi komunis eks PKI. Tetapi sejak 2005 saat Jokowi jadi Walikota Solo, faksi komunis di PDIP menguat.
Faktor Bu Sudjiatmi terduga anggota PKI.
Hal ini tidak terlepas dari dukungan penuh eks PKI terhadap Jokowi. Faktor Bu Sudjiatmi terduga anggota PKI. Jokowi jadi walikota Solo diback up faksi Komunis dan Katolik di PDIP yang menipu rakyat muslim Solo.
Berdasarkan kesaksian tetangga Widjiatno di Kragan, Wijono, ayah Jokowi (Widjiatno) sewaktu muda aktif dalam organisasi terafiliasi PKI.
Aktifitas di PKI menjadi motif kepindahan Widjiatno ke Giriroto, Ngemplak Boyolali yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Kragan. Aktifitasnya di PKI diduga menyebabkan Widjiatno menjalin kasih dengan Sudjiatmi yang diduga aktifis organisasi wanita PKI, Gerwani/Gerwis

Ronin 1946 mengungkapkan, ia belum peroleh bukti Widjiatno dan Ibu Sudjiatmi terlibat pembantaian ratusan umat Islam pada 1 Oktober 65. Usai Letkol Untung kudeta di JKT.

PKI yang pertama sekali beraksi adalah PKI Jateng dengan menangkap Brigjen Surjo Sumpeno Pangdam Diponegoro. PKI kuasai Kodam / tentara.
Pada tgl 1 Oktober 1965 itu juga ratusan umat Islam, terutama aktivis NU dan Muhammadiyah dibunuh di Giroroto, ngemplak, Boyolali.
Kesengajaan Jokowi menipu rakyat Indonesia bahwa dia, ayahnya, ibunya (Sudjiatmi) terlibat PKI, dimaksudkan agar rencana besarnya SUKSES.
Mengenai indikasi Jokowi dan ibunya terafiliasi PKI kian hari makin terbuka dan makin banyak buktinya. Misalnya : pihak pendukung JKW.
Jokowi terkait Giroroto, Basis PKI Jateng, didukung tokoh-tokoh komunis : Setyo Budi (Semut Ireng) dan Budi Arie Setiadi (Pro Jokowi/Projo).
Di Solo Jokowi tidak pernah shalat, Jokowi mulai menyaru Islam ketika dia ikut Pilkada DKI Jakarta. Diajar dan dilatih intesif oleh seorang ustadz dan tempat belajarnya di Hotel Sahid Jl. Sudirman Jakarta, di ruangan khusus, Jokowi dididik agar bisa berperan pura-pura islam.
Jokowi mulai menyaru Islam ketika dia ikut Pilkada DKI Jakarta. Diajar dan dilatih intesif oleh seorang ustadz dan tempat belajarnya di Hotel Sahid Jl. Sudirman Jakarta
Setiap hari 1 - 2 jam. Kilat. Ketika Putaran kedua Pilgub DKI Jakarta, PKS yang diminta koalisi oleh PDIP, wawancara Jokowi degan pertanyaan-pertanyaan dasar Islam: Jokowi TIDAK BISA JAWAB.
Jokowi ketahuan nyaru islam. PKS batalkan koalisi dengan Jokowi. Tetapi kemudian muncul fitnah di media-media seolah-olah PKS batal koalisi karena UANG. Isu Uang Mahar dijadikan fitnah kubu Jokowi ke PKS yang menolak koalisi dengan cagub Jokowi. PKS pun jadi bulan-bulanan opini sesat media jokowi.
Ketika kampanye di Menteng Dalam, pas shalat Jumat, Jokowi salah berwudhu, setelah basuh muka langsung cuci kaki, ditegur eh marah. Setelah Jokowi jadi Gubernur Jakarta, sidak ke kantor walikota jakarta utara. Ruangan kosong, PNS ga ada. Dia marah-marah. Padahal PNS sedang shalat Jumat.
Ketika Gubernur DKI Jokowi diberitahu bahwa PNS semua sedang shalat Jumat, mukanya merah padam, ketahuan Jokowi tidak shalat jumat. Ketika ketahuan ga bisa jawab pertanyaan mudah, "apa makna ramadan?" oleh presenter metro tv. Jokowi takut ketahuan. Besoknya Buru-buru umroh.
Seminggu setelah "insiden Jokowi ketahuan bukan Islam" dia pulang dari umroh. Foto-foto umrohnya disebutnya sebagai foto haji. Dasar penipu. Yang kita persoalkan bukan Jokowi itu islam atau tidak. Bukan itu. Tetapi KEBOHONGAN-KEBOHONGAN JOKOWI selama ini. Dia tidak jujur dan ada misi khusus.
Prabowo juga bukan muslim yang taat. Tapi dia tidak ngaku-ngaku muslim sejati, tidak ngaku-ngaku haji padalah dia sudah naik haji bareng pak Harto dulu. Beda dengan Jokowi, dia bohong, bohong, bohong, bohong, menipu diri sendiri, rakyat, umat dan Tuhan !  Manusia macam apa dia ?
Yang parah, Jokowi ngaku foto-foto umrohnya sebagai foto haji. Dia sangka semua umat Islam bisa dia tipu. Ditanya kapan Jokowi haji? Jawabannya tahun 2003. Wallahu 'alam. [ronin1946/voa-islam.com]

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/06/25/31133/melawan-lupa-9-pki-jokowi-hendropriono-telah-menyandera-megawati/#sthash.nr7kr3xO.dpuf

Panggil Aku Wie Jo Koh alias Jokowi, Antek Asing dan Aseng

Banyak yang menyangkal keabsahan Jokowi antek asing dan aseng, terlebih lagi Jokowi ternyata anak Cina, lalu apa kata Sri Bintang Pamungkas?
Kelompok Tartar
Menurut politisi kawakan yang pernah keluar masuk penjara di era rezim Orde Baru, Dr Ir Sri Bintang Pamungkas, sebagaimana pernah dimuat di Suara Islam edisi 174, di Indonesia terdapat tiga kelompok etnis Cina. Pertama, adalah mereka yang masih berkiblat kepada pemerintah RRC.Kedua, adalah mereka yang berkiblat pada pemerintah dan hukum Indonesia dan sepenuh hati loyal kepada Republik Indonesia. Ketiga, kelompok Cina Perantauan atau Hoakiauw.

Kelompok Hoakiauw inilah yang terbesar dan mereka hanya menjadikan Indonesia sebagai tempat mencari hidup saja, mereka berlaku seolah-olah Indonesia miliknya, tetapi kekuasaan, hukum dan lain-lain adalah mereka yang punya; singkatnya, hidup mereka seperti benalu.

Hanya saja, mereka punya akar-akar seperti pohon beringin yang menjadikan mereka bisa hidup abadi, meskipun Pribumi Indonesia mati.Di seluruh dunia, sikap hidup para Tartaris adalah seperti itu; tetapi hanya Indonesia yang dengan mudah ditaklukkan, di samping yang sudah lebih dulu. Kelompok Tartar ini mau menjadikan Indonesia seperti Singapura.

Ketika bujukan untuk pindah ke Jakarta menjadi Gubernur DKI itu termakan untuk selanjutnya diiming-imingi menjadi capres, itulah saatnya Jokowi mulai diperangkap oleh kelompok Tartar itu.
Padahal kejahatan kelompok Tartar, sudah terdeteksi sejak awal 1970-an, dimana mereka para kelompok Cina yang berusaha menguasai Nusantara. Mereka pulalah yang mempengaruhi Jokowi untuk hijrah ke Jakarta dan menjadi capres.

Menurut Sri Bintang, kelompok Tartar ini menjadi kuat setelah bergabung dengan kelompok Nasrani Kharismatik; atau sebaliknya. Para pendukungnya, antara lain, adalah dari kelompok Lippo dan Ciputra; dan masih banyak lagi yang bisa disebut.
Dan di belakang mereka adalah pemikir dan pemain legendaries di era Orba bahkan sampai sekarang seperti CSIS. Merekalah yang berusaha membelokkan Republik Indonesia dari cita-cita Proklaamasi 1945.
Dalam sejarahnya, menurut Sri Bintang, keinginan untuk menguasai Nusantara dari para Tartaris ini sudah mulai ada sejak abad ke 5 atau 6 Masehi.

Istilah Tartar mulai muncul ketika pada akhir 1100-an dan awal 1200-an, ketika orang-orang Mongol membangun dinasti di Daratan Cina. Mereka mengikuti gerakan sebelumnya untuk menguasai Nusantara yang kaya dan makmur.
Banyak ekspedisi perang mereka yang dikirim ke Nusantara, termasuk semasa kejayaan Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit. Tetapi mereka selalu dikalahkan. Tentara Tartar yang dihancurkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit itu, adalah tentara gabungan antara orang-orang Cina dan Mongol. Mereka berjiwa penjajah dan berperilaku kejam sekali.

Namun kemudian pada abad-abad berikutnya, mereka mulai bermigrasi ke Nusantara secara besar-besaran, bebas dan tidak kentara, sesudah jatuhnya Kerajaan Majapahit dan muncullah Kasultanan-Kasultanan Islam; serta bersamaan dengan masuknya para penjajahBarat seperti Portugis, Inggris dan Belanda.
Nafsu orang Cina Hoakiauw untuk menguasai Nusantara atau Indonesia itu hidup terus sejak jaman Belanda hingga sekarang. Rusaknya rezim-rezim penguasa, dimulai dari Soeharto sampai SBY sekarang, yang justru memberikan peluang bagi terwujudnya nafsu penjajahan oleh para Tartaris itu.

Memang diakui, tidak semua orang Cina di Indonesia mempunyai jiwa Tartarisme seperti itu; tetapi jumlah mereka sedikit sekali. Terlebih-lebih, ketika para Tartaris itu bergabung dengan kelompok non-Muslim, khususnya, kaum Nasrani, yang juga sudah masuk ke Indonesia sejak para penjajah Barat masuk Indonesia.
Lebih khusus lagi ketika masuk pada awal 70-an juga, kelompok Nasrani Kharismatik. Kelompok ini berasal dari Orde Pentecosta di Israel, mulai berkembang di Inggris, lalu Amerika Serikat, bahkan diterima oleh Vatikan di samping kelompok Katholik Roma.

Mereka masuk ke Indonesia melalui Timor-Timur kemudian Surabaya.Mereka membangun jaringan besar dan luas di seluruh Indonesia, terutama Jawa, dengan dana luarbiasa besarnya.

Aseng dan Asing
Banyak rakyat Indonesia yang belum mengetahui, dibalik sikap Jokowi yang kelihatannya merakyat dan selalu memakai baju putih itu, sesungguhnya dia sejak sebelum menjadi Walikota Solo (2005) adalah antek Aseng (Cina Hoakiauw/Cina Perantauan).
Jokowi (Joko Widodo) sesungguhnya masih keturunan Cina asli dari Solo, sebab ayah kandungnya adalah Oey Hong Liong dan ibunya Sudjiatmi, perempuan asli Jawa. Bahkan Jokowi memiliki nama asli Cina, Wie Jo Koh dan leluhur Jokowi yang pertama kali datang ke Indonesia pada zaman Belanda bernama Wie Jok Nyam.

Hal itu menunjukkan Jokowi keturunan Cina bermarga Wie, dimana leluhurnya berasal dari daratan Cina. Maka tidaklah mengherankan jika dibelakang Jokowi selalu berdiri tokoh-tokoh konglomerat hitam Cina demi membantu Jokowi agar berhasil merebut kursi Walikota Solo, kursi Gubernur DKI Jakarta dan akhirnya nanti kursi RI-1.
Ketika mencalonkan Walikota Solo berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo (Ketua PDIP Solo) tahun 2005, Jokowi didukung habis-habisan dengan pendanaan dari Lukminto, seorang Cina Solo pemilik pabrik tekstil terbesar di Indonesia bahkan produknya telah mendunia karena dipakai sebagai seragam pasukan NATO, PT Sri Rejeki Isman Textile (PT Sritex) yang memiliki pabrik besar di Sukoharjo.

Tidak hanya Lukminto, tetapi para bos Cina lainnya di Solo seperti bos PT Konimex juga ikut mendukung pendanaan untuk kedua pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota tersebut. Sebab sebelum menjadi Ketua PDIP Solo, Rudy adalah Ketua Serikat Buruh PT Konimex yang dikenal perusahaan yang memproduksi obat-obatan tersebut. Akhirnya Jokowi-Rudy berhasil menang pada Pilkada 2005 dan dilanjutkan pada Pilkada 2010.
Demikian pula pada Pilgub DKI tahun 2012 lalu, pasangan Jokowi-Ahok didukung dana triliunan rupiah dari para Cina Hoakiauw dan konglomerat hitam seperti James Riyadi dan Antony Salim, anak konglomerat hitam pendiri Lippo Group Muchtar Riyadi, dan Liem Swie Liong pendiri Salim Group dan BCA.

Padahal Muchtar Riyadi dan Liem Swie Liong serta Syamsul Nursalim dan para Cina Hoakiauw lainnya dikenal sebagai “Para Perampok BLBI” tahun 1998 lalu yang mencapai jumlah total Rp 660 triliun.
Namun sayangnya, mereka justru “dimaafkan” oleh Presiden Megawati ketika berkuasa 2001-2004 lalu, meski baru mengembalikan 30 persen hasil jarahannya bahkan ada yang baru mengembalikan 10 persen saja.
Sekarang yang menanggung pembayaran hutang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tersebut adalah rakyat Indonesia dicicil melalui APBN setiap tahunnya dan itu belum tentu akan lunas hingga 50 tahun mendatang. Sedangkan para anak konglomerat hitam seperti James Riyadi dan Antony Salim sekarang justri berdiri dibelakang Jokowi untuk mengincar kekuasaan dan kembali menjarah negeri ini jika kelak Jokowi akhirnya terpilih menjadi Presiden RI.

Kalau pada Pilgub DKI para konglomerat hitam itu telah menggelontorkan dana hasil rampokan BLBI puluhan triliun rupiah dan akhirnya berhasil mendudukkan Jokowi-Ahok di kursi Gubernur dan Wagub, maka pada Pilpres nanti diperkirakan mereka akan mengelontorkan dana ratusan triliun rupiah demi mendudukkan Jokowi di kursi RI-1 dan mereka menginginkan RI-2 berasal dari tokoh Kristen atau Katolik.
Dana sebesar itu akan disokong para konglomerat hitam di dalam negeri dan luar negeri terutama pada Hoakiauw di Asia Tenggara, dimana mereka sekarang sering mengadakan pertemuan di Singapura. Jadi sesungguhnya masa depan Indonesia sedang ditentukan dari Singapura jika Jokowi sampai berhasil menguasai Istana. 

Tidak hanya menjadi antek aseng, ternyata Jokowi juga menjadi antek asing terutama AS. Terbukti awal 2012 lalu sebelum Jokowi maju untuk pencalonan Gubernur DKI, Dubes AS Scott A Marciel sempat berkunjung ke Solo dan bertemu Jokowi. Diduga keduanya bertemu untuk membicarakan pencalonan Jokowi guna merebut kursi DKI-1.
Bahkan akhir bulan lalu Jokowi bersama Megawati bertemu dengan para Dubes negara-negara Barat termasuk AS dan Vatikan di sebuah rumah pengusaha Cina anggota jaringan Yahudi Internasional di Jakarta. Pertemuan yang sesungguhnya rahasia tersebut ternyata berhasil dicium insan pers, namun Jokowi tetap tidak mau menyebutkan apa isi pembicaraan antara dirinya dengan para Dubes negara-negara Barat dan Vatikan tersebut.

Namun liciknya Jokowi, untuk meredam kecurigaan umat Islam kalau dirinya sebenarnya antek asing dan aseng, Jokowi awal bulan ini sengaja mengunjungi para tokoh Islam dari kalangan Muhammadiyah dan NU yang kemudian dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan para Dubes negara-negara Timur Tengah di Jakarta.
Hal itu dimaksudkan untuk mengelabui umat Islam Indonesia sekaligus pada Pilpres nanti agar memilih Jokowi, jadi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. 

Dengan demikian sesungguhnya jika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 9 Juni nanti, maka akan menjadi momentum untuk mengubah Indonesia menjadi Singapura kedua atau menjadi Indonesia negara satelit RRC.
Pasalnya, kelompok konglomerat hitam Hoakiauw yang menjadi geng Jokowi saat ini sudah menguasai 70 persen perekonomoan nasional, jika nanti dia berkuasa praktis akan menguasai politik nasional. Jika politik dan ekonomi sudah dikuasai satu kelompok mafia Hoakiaow, maka pertanda akan tamatlah NKRI dan kemunduran besar bagi umat Islam Indonesia yang saat ini mayoritas mutlak 88 persen.

Dapat dipastikan para konglomerat hitam geng Hoakiauw yang berkolaborasi dengan Kristen dan Katolik Fundamentalis itu akan berusaha keras sekuat daya dan tenaga untuk mengkristenkan dan mengkatolikkan umat Islam Indonesia, yang dulu selalu gagal dilancarkan penjajah Belanda meski mereka berkuasa selama 350 tahun atas Nusantara.

Sebab sesungguhnya mereka telah menunggu 1.000 tahun sejak Kerajaan Singosari, sekarang mereka berfikir mumpung Wie Jo Koh sedang berkuasa di Indonesia, kapan lagi waktunya kalau tidak sekarang untuk menguasai Nusantara sekaligus mengkristenkan umat Islam sehingga menjadikan Indonesia Negara Kristen Republik Indonesia (NKRI). Naudzubillah min dzalik. (*)

Penulis: Abdul Halim/VOA-Islam  
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/liberalism/2014/05/20/30232/panggil-aku-wie-jo-koh-alias-jokowi-antek-asing-dan-aseng/#sthash.rM6CaSff.dpuf

Minggu, 02 Februari 2014

Jakartaku...tahun 2014

Siapa tak kenal kota Jakarta.
Kota dengan sejuta kegiatan, hiruk pikuknya bahkan tak pernah berhenti. Denyut jantungnya juga...hanya berkurang sedikit di pagi akhir pekan, siangnya....kembali hiruk pikuk sampai minggu sore.

Awal tahun ini, Jakarta mendapat ujian dari Allah SWT, banjir datang menerjang. Merambah wilayah yang sebelumnya juga terkena banjir dan meluas ke daerah-daerah sekitarnya. Kegiatan perekonomian praktis menjadi terhenti, tidak sama sekali terhenti, tapi sementara melambat.
Bantuan dikerahkan, pada pengungsi, posko dibangun, secara spontanitas banyak relawan, yang resmi maupun dari partai tertentu ikut turun tangan membantu.

Tapi banjir belum lagi mau mereda, selang seminggu kemudian, banjir besar kembali melanda, kali ini ikut menerjang kawasan sebelumnya yang sudah mulai kering dan akhirnya terpaksa banjir kembali.
Tak pelak lagi, bantuan yang sebelumnya jadi ikut kekurangan. Pengungsi bertambah banyak. bahkan ada korban meninggal karena tersengat listrik, hanyut terbawa arus banjir yang deras ataupun sebab lainnya.

Prihatin...2 tahun berturut-turut Jakarta terkena banjir
Dalam bulan Januari 2014 saja, beberapa kali Jakarta sudah banjir....Astagfirullah..!!

Teringat kembali akhir desember 2013...Jakarta mengadakan pesta perayaan tahun baru...
Pesta Festival Rakyat yang konon menelan biaya milyaran rupiah ini dibuat untuk memberi hiburan tahun baru. Beberapa panggung rakyat dibuat, penyanyi2 dipanggil untuk memeriahkan dengan seribu satu alasan untuk memeriahkan malam pergantian tahun.

Yang saya bingung, kenapa malam pergantian tahun dirayakan sedemikian rupa. Berfoya-foya, tertawa terbahak2 seakan di tahun baru mereka akan melihat sinar matahari yang baru, harapan baru, keceriaan baru.
Tidak salah memang jika berharap seperti itu, tapi tidak harus dirayakan dengan pesta pora seperti itu. Sementara diwilayah lain, banyak warga Indonesia masih ditimpa musibah.

Dimana rasa toleransi bangsa ini...tidakkah peka terhadap musibah yang menimpa saudaranya sendiri ?
Tidakkah tergetar, melihat saudara se indonesia sedang tertimpa musibah sementara mereka malah asyik berpesta pora ? Astagfirullahal azhiim...wa atubu ilaihi...

Belum lagi sepanjang pesta rakyat itu berapa perbuatan maksiat sudah dilakukan ? Astagfirullah al azhiim wa atubu ilaihi...ngeri,takut dan sedih membayangkannya.
Makin saya tidak mengerti mengapa para pemimpin ini tak juga diberi kesadaran untuk segera memohon ampun pada Allah SWT atas kesalahan ini.
Banyak sudah warga yang melakukan muhasabah...tapi mungkin belum cukup untuk semua hal

Astagfirullahal azhiim....semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kami....Aamiin Yaa Rabbal Alamiin

Minggu, 04 Agustus 2013

Stereotype orang minang

Sepertinya hal yang wajar, ketika menonton lawakan di TV nasional kita mendengar kalimat begini, ’Dasar Padang, Batak, Betawi, Cina dsb nya’. Saya nggak tau apakah ini juga terjadi di tempat yang sangat multi-cultural, selain di Indonesia.
Sayang, saya nggak pernah merasakan hidup di New York atau Amsterdam yang juga sangat multi-kultural, malah dalam satu kota Amsterdam terdapat lebih kurang 200 bangsa.
Merasakan hidup di Singapore, yang bisa dikatakan juga multicultural,- Saya nggak begitu sadar apakah ada kalimat-kalimat seperti yang sering Saya dengar di Indo, misal  ’dasar China, dasar Melayu, dasar India, dasar Eurasian’ :) , aneh aja denger dasar Eurasian..
Atau mungkin karena di Singapore sangat individual dan bercandanya gak se’dekat’ orang kita jadi saya hampir jarang mendengar kalimat “dasar ini itu” . Sepengetahuan saya,- ada beberapa dari orang Cina Singapore kurang menyukai India. Namun, karena racial issue sangat sensitif di Singapore jadi terdengar harmonis.
Kalau di Indo,- dari orang biasa, selebtwit, sampai selebritas.. masih belum matang freedom of speechnya. Tapi sok-sok an terkesan cerdas dan pintar. Buktinya, waktu kasus Film si Hanung, Cinta Tapi Beda, saya sempat terbaca twit2 yang sangat tidak sensitif ke etnis tertentu. Seperti mengolok-olokan Rumah Makan Minang dengan twit ‘Bacon Balado’, ‘Rendang babi’, dsb. *lucunyamaksa*
Dikehidupan sehari-hari, sudah biasa mendengar kalimat dibawah ini baik itu di acara komedi dan sebagainya;
“Dasar Padang” ,
“Padang amat lo….”,
“Padang Pelit” ,
“Jangan kawin sama cewek Minang, — tukang ngatur suami, berkuasa”
“Padang Matre, cowok aja dibeli”
(meski hanya Pariaman yang menganut sistem ini, tapi orang luar mengeneralisir ke Padang/Minang. Padahal, adat membeli cowok ini sepengetahuan saya berasal dari India yang sekarang sudah di ilegalkan. Dan yang saya lihat, masih banyak wujud India di Pariaman, bahkan teman-teman SD saya yang berparas murni India, semuanya berasal dari Pariaman)
Lalu pernah mendengar seseorang mengejek logat Minang yang menurut dia huruf ‘E’ nya itu terdengar kampungan. Sayang waktu itu saya belum belajar bahasa Prancis, seandainya saya udah kenal bahasa Prancis saat itu, saya bisa balas… , Berarti bahasa Minang punya huruf ‘e’ aksen Prancis dan ‘e’ dengan aksen normal. :P
Sewaktu masih belia dan hidup nge-kost, untuk membuktikan Padang nggak pelit,- saya mentraktir beberapa teman kost disalah satu restorant di hari ulang tahun. Padahal duit saya nggak banyak!!! Dan lucunya, tiba saatnya si teman yang pernah saya traktir ulang tahun, mereka malah nggak ngadain acara makan-makan. Uhh, sebenarnya siapa sih yang pelit. Kenapa kalau saya orang Padang yang pelit, dia ngomong, “dasar Padang lo,”, eh pas dia yang pelit, saya nggak pernah ngomong, “Dasar Jawa lo!!!”
Padahal pelit, matre..tergantung orangnya, bukan suku-sukunya.. 
Parahnya, Bapak saya juga pernah dikatain “Padang bengkok” saat lagi tawar menawar di Jakarta.
Kisah lainnya, waktu menemani teman Belanda yang sedang tawar menawar jam tangan di Kuala Lumpur, melihat cara dia menawar, saya jadi ingat etnis sendiri. Ternyataaaaa….. orang Belanda dan Padang (Minang) banyak kemiripan yaaaaaa. Malah orang Belanda lebih parah dalam menawar dibanding orang Minang!!!
Saking kesalnya si penjualnya nanya “Where are you from??? Holland??” *Gubrak* Ketebak gitu. Ternyata, kalau di Indonesia yang terkenal pelit (ooops masih tersinggung) adalah Padang/Minang. Di dunia adalah Belanda…  High Five deh Kompeni. We’re on the same boat XD
Dan saya mencoba untuk mencari-cari persamaan orang Belanda dengan Minang dari sifat perhitungannya. Sumatera Barat dan Belanda, selain luas teritorinya yang hampir sama, dan sama-sama berbatas dengan lautan, kecil, jumlah penduduknya yang sedikit namun kita tetap ‘exist‘,- tersebar dimana-mana,-
Sejak dahulu kala, orang Belanda terkenal sebagai bangsa yang suka berlayar dan berdagang. VoC, bukti nyata. Orang Minang,- juga bangsa yang suka merantau dan berdagang. Nah, mungkin karena bangsa Pedagang ini kita jadi sangat perhitungan. Kalau orang berdagangkan selalu mikirin untung dan rugi, Benarkan…???
Saya punya kenalan Belanda yang punya anak angkat dari Indonesia dan disekolahin sampai sukses. Waktu itu juga pernah kenal mbak-mbak asli Bali di Kuta, yang berkerja sebagai travel agent dan dia cerita, kalau dia pernah ke Belanda. Ceritanya, dia dibiayain sama kakek-kakek Belanda yang punya apartment di Legian. Rejeki nomplok nggak tuh si mbak. Puas lah dia hidup di Belanda sama anak-anaknya si bapak tua itu, diajak jalan-jalan liat-liat Belanda. Semuanya gratis. Nah, pelit darimana??
Orang Belanda terkenal sangat straightforward dalam mengemukakan pendapat. Orang Minang?? Mungkin ini yang membuat orang Jawa sering salah paham dengan orang Minang. Dari ‘outsider’, kita sering dengar kalau orang Minang itu kasar dan sebagainya. Orang Jawa terkenal dengan kehalusan gaya bicaranya, meski sedang marah dan tidak suka dengan lawan bicaranya, kita lah yang harus bisa membaca pikiran mereka. Senyum bagi mereka kadang bukan berarti senyum sesungguhnya, banyak arti lain. Kadang tersenyum hanya karena mereka nggak mau menyakiti lawan bicaranya.
Minang,- bagi kita, lebih baik sakit sekarang daripada tau belakangan, straight to the point. Mirip Belanda?? :P
Belanda, pernah mengalami masa-masa keemasan berabad-abad lampau. Dimana mereka menghasilkan penemu, pelukis, filsafat kelas dunia. Sedangkan Minangkabau?? Kita juga pernah mengalami masa-masa keemasan, dimana tokoh-tokoh politik Asia Tenggara berasal dari Minangkabau. Kadang saya sering bangga memandang Dolar Singapore dan Ringgit Malaysia, Kepala negara pertamanya adalah orang Minang dan melekat dimata uang asing, sampai sekarang.
Orang Minang dalam Mata Uang Malaysia dan Singapura
Orang Minang dalam Mata Uang Malaysia dan Singapura
Nggak bermaksud menjadi Chauvinis, kadang,- kita harus bangga dengan hal-hal positif yang kita punya meskipun itu hanya sejarah masa lalu,- kalau tidak kita akan jadi rendah diri dengan adat istiadat sendiri, seperti saya muda yg hanya takut dibilang Padang pelit, saya harus ntraktir teman-teman yang gak tau diri makan-makan di Restorant. Padahal ulang tahun saya tuh tanggal muda, tanggal 7!! Hasilnya, 3 minggu berikutnya saya harus rela makan tempe tiap hari dan ngemil Chicky…. :( ((
Gus Dur pernah berkata; Generasi Minang sekarang, nggak berhasil mencetak tokoh-tokoh berpengaruh seperti di masa lampau. Di zaman keemasannya, dunia sastra Indonesia dikuasai oleh orang Minang, yang membuat bahasa Minang memberi banyak pengaruh ke bahasa Indonesia. Gus Dur mempertanyakan ini. Saya nggak tau kelanjutan ceritanya, tapi masa’ sih seorang Gus Dur nggak tau kenapa ini bisa terjadi???
Setelah membaca sedikit biografi tokoh2 Minang, yah, mungkin karena pendidikan diranah Minang saat itu dipengaruhi pendidikan Belanda. Coba liat deh, Hatta dan kawan-kawan bisa menguasai at least 3 bahasa asing, yang otomatis… beliau-beliau ini punya banyak bahan bacaan dari buku-buku berbahasa belanda, Jerman, Prancis dan sebagainya. Membaca adalah jendela dunia, semakin banyak seseorang membaca buku-buku yang berkualitas, otaknya semakin terasah dan semakin kritis, pandangannya akan lebih luas.
Bandingkan dengan sistem pendidikan dan tokoh2 kita sekarang. Mana ada tokoh-tokoh Indonesia sekarang yang dikategorikan sebagai Polyglot, menguasai banyak Bahasa seperti Hatta, Agus Salim yang konon menguasai 11 bahasa…??
Tapi anehnya, Hamka hanya sampai kelas 6 sd. Tapi beliau juga menguasai banyak bahasa asing, tanpa sekolah tinggi ke Harvard, semuanya otodidak, toh Hamka berhasil menjadi ulama dan sastrawan yang dipedomanin sampai keluar Indonesia. Malah di luar, namanya jauh lebih diagungkan dibanding dalam negri. Eit, Jepang,- bukan bangsa yang menguasai banyak bahasa :|
Dan ada lagi, didalam adat Minang lampau,- berlawanan dengan cara bicara orang Minang yang straight to the point, malah berbicara dengan mertua itu harus berkias-kiasan. Maksudnya Pakai MAJAS, apakah itu metafora atau personifikasi. Gak bisa bermajas artinya nggak selamat dengan Mertua. Ampun deh!!! Generasi sekarang malah berbahasa Alay seperti Ciyus?? Miapah…. *OMFG*
In my humble opinion, faktor-faktor diatas yang membuat Minang dahulu tidak sama lagi dengan Minang zaman sekarang. Lagian, “Life is like a wheel, sometimes you’re at the top, sometimes you’re at the bottom. The world turns.”
Ada lagi persamaan yang saya temui antara Minang dan Belanda. Menurut si teman Belanda, wanita belanda itu feminist banget, di Belanda, wanita Belanda sangat berkuasa, yang mengatur keuangan dan sebagainya, sedang prianya nurut-nurut aja. Mungkin, karena itu cowok Belanda suka wanita Indonesia, apalagi wanita jawa yang sangat nunduk sama pria. Du duduuuu …
Hmmm, ternyata wanita belanda kelakuannya nggak jauh beda sama wanita di adat Minang. Mungkin karena sistem garis keturunan ibu, dimana wanita punya peranan besar di keluarga, sang ibu/nenek lah yang biasanya jadi otak didalam rumah tangga. Ke-egaliteran dlm budaya Minang membuat wanita dan pria bisa dikatakan setara. Dalam adat Jawa, membantah perkataan pria/suami mungkin hal yang tabu, dalam adat Minang,- hal yang biasa. Dan  faktanya wanita Minangkabau sudah menuntut ilmu jauh sebelum ibu Kartini dan gerakan emansipasinya.
Contohnya, Rohana Kudus yang lahir lebih awal dari ibu Kartini mencetak banyak prestasi di banding ibu Kartini, namun begitulah…. Sejarah kadang hanya lebih ditekankan oleh siapa yang paling berkuasa. Tapi ini bukti, Minangkabau sudah mengenal kata feminist sejak berabad-abad silam. (hmm, saya juga kurang tau beda antara Matriarch vs Feminist, mungkin ada yang tau??)
Dulu, saya termasuk orang yang lebih mentingin rasa kenasionalitasan dibanding kedaerahan. Tapi belakangan…. setelah membaca-baca tweet figur publik dan isi otak orang Indonesia tentang film Hanung yang dengan sembrononya dengan suku Minang, perlahan-lahan,-kepedulian akan rasa nasionalitas pudar sudah.
Kerukunan beragama di Minangkabau jauh lebih baik dibanding Jakarta atau daerah lain, bahkan saat demo 98, khabarnya orang Jakarta selalu mengirim ‘Beha’ ke orang Minang, karena kita paling malas demo-demoan dan dianggap pengecut atau kurang kompak. Suatu hari dulu pernah menguping pembicaraan supir angkot yang dibayar untuk demo, dia bilang ketemannya,- dibanding demo-demoan nggak jelas, mending ‘narik’, penghasilan lebih dari demo bayaran. Menurut saya, sangat tipikal orang Minang, banyak dari kita tidak puas hanya dengan gaji yang dibayar, kalau kita bisa menghasilkan lebih mending kita usaha sendiri daripada disuruh-suruh.
Eh, kehabisan ide bikin film, bawa-bawa isu agama dengan memutar balikan fakta diranah yang tenang dan damai (kecuali dengan gempa..eii). Apa nggak kepikiran dengan dia, hal ini bisa menjadikan rasa nggak nyaman untuk kerukunan di kampung orang. Malah para selebtwit dengan sotoy nya menuduh kita yang protes adalah orang primitif. Eloo tuh yang kurang adat, nggak ngerti pepatah, ‘dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung’ yang artinya, dimana pun lo berada, Hargai budaya setempat.
Kalau begini nih, sempat terbersit kenapa sih kita harus jadi bagian NKRI, udah rasis dan kurang toleransi, sotoy pula!!! Emangnya enak, menanggung dosa daerah lain padahal kita yang nggak tau apa2 jadi kena getahnya, daerah lain yang tukang bakar-bakar gereja eh atas nama Indonesia tercinta kita yang kena,— D.A.M.N
Sangat merindukan Indonesia yang positif, bukan Indonesia yang negatif, diracuni dengan medianya sendiri.
Pengalaman stereotype lainnya ; ‘Emang benar ya…. Padang itu Cinanya Indonesia’
‘Hah, … kok bisa gitu..‘,-saya nanya balik,  si penanya itu juga nanya dan nggak tau jawabannya, karena dia juga dengar-dengar dari orang.
Ada yang tau kenapa begitu??
Atau mungkin, Padang dan China sama-sama suka berdagang, selalu ada dimana-mana, lalu….  sama2 gigih, terbukti,- di Sumatera Barat, yang menguasai perekonomian itu bukan warga keturunan seperti di provinsi lainnya,- tapi seimbang, Hanya itu yang bisa saya tafsir dari kalimat sipenanya itu. Atau mungkin ada hal-hal negatif yang nggak diutarakan. Ah, saya nggak mau berpikiran buruk.
Dan belakangan, terdengar rumor kalau orang Padang itu keturunan Yahudi. Wahhh, keren banget!!!! hahahaha…. Mau merasa tersanjung atau gimana gitu disamakan dengan yahudi. Orang Yahudi kan ganteng-ganteng dan yang cewek wajahnya ala Natalie Portman. :D .
Udah Ge-er duluan, atau jangan2 ada hubungannya dengan istilah Padang bengkok atau licik?? *Yuk, kita tanyakan pada Galileo*
Ironisnya, di Singapore dan Malaysia, ketika saya mengaku orang Minang,,,, nggak ada yang stereotypenya Padang pelit, bengkok dsb. Kalau di Singapore, saya bilang dari Padang, reaksinya  ’Ohh, Jadi nasi Padang itu dari sebuah daerah di Indonesia… I see, I see, nice to know….’. 
Sedangkan di Malaysia, sepertinya mereka lebih welcome dengan orang Minang dibanding Indons. Saya kaget waktu bertemu rombongan Malaysian di Krabi saat makan malam, ketika saya bilang dari Indonesia, reaksinya biasa aja, dan ketika dia nanya which part of Indonesia, saya jawab Sumatra Barat.——- Reaksinya berubah 180 derajat. Mereka keliatan semangat dan mengaku dari negeri sembilan dan mulai berbahasa Minang. Ketika saya agak canggung berbahasa Minang dan memilih berbahasa Inggris, mereka agak curiga, serius nih orang Minang. Akhirnya bercakap Minang dengan orang Malaysia, baru deh komunikasi lancar jaya. Meski ada perbezaan sikit.
Saya kagum dengan orang Malaysia keturunan Minang ini, padahal sudah lebih dari 5 abad yang lalu nenek moyang mereka meninggalkan ranah minang, tapi mereka nggak pernah lupa akan asal usulnya, tentunya mereka berhak mengakui rendang dan mendirikan rumah gadang di sana, jangan tuduh curi budaya pula my fellow Indonesians, pelajari sejarah, jangan sampai kita dijadiin bahan ketawaan saudara serumpun.
Oops, tapi nggak bisa disalahkan juga. Mata pelajaran disekolah kita sangat Jawasentris. Mana pernah kita diceritakan kalau Kerajaan Minangkabau itulah yang punya pengaruh besar ke Melayu di Malaysia sekarang sampai ke Bruney, kepulauan Sulu di Filipina Selatan.
Di ketawain orang Malaysia yang sengaja mengukur wawasan orang Indonesia tentang Nusantara, ini karma bagi kita, kenyang di dongeng-in Sukarno dengan Majapahit dan sebagainya, yang faktanya sejarah Majapahit juga masih kabur. Sukarno dengan khayalannya tentang Kerajaan Melayu takluk dengan Majapahit, dan tidak ada bukti atau prasasti sama sekali tentang itu. Nggak seperti, orang Minang dinegri sembilan yang sampai sekarang masih berbahasa Minang, dan mendirikan rumah adat Minang, padahal di abad yang sama.
Yang paling menyedihkan, orang Minang juga ikut-ikutan ribut tentang Rendang punya siapa dengan Malaysia. Pernah dulu saya menulis ini di blog, teman Padang saya malah menyindir di statusnya kalau saya nggak tau sejarah tentang kehebatan Majapahit. Halo urang awak, mau aja dibodoh2in sejarah ciptaan Sukarno. Ini akibat buku sejarah yang nggak pernah jujur menceritakan fakta sebenarnya.
Untung saya melanglang buana ke Malaysia dan Singapore, saya jadi banyak tau tentang cerita yang sebenarnya dibanding buku dongeng disekolah. Saya baru tau ini ditahun 2008, ketika saya dan kedua teman dari Belanda dan Swedia menjelajah Malaka. Hati ini pun jadi bertanya-tanya, mana yang katanya Malaka pernah dikuasai Majapahit. Peninggalan Portugis, Belanda dan Minangkabau lah yang sangat jelas ditemui di Melaka. Bukan Majapahit. Uh, bermimpi.
Tahun 2008, Saya, teman Swedia dan Belanda menyewa mobil dan melakukan road trip dari Johor ke Melaka. Di sepanjang perjalanan, teman Belanda dan Swedia yang sebulan sebelumnya baru saja mengembara ke Sumatera Barat nyeletuk waktu mereka melihat sekumpulan ibu-ibu berjilbab membuat ‘lemang’, ‘Mirip-mirip di West Sumatera yah budayanya????’ Nah lhoooo…. Orang bule yang nggak tau apa-apa tentang Melayu dan Minangkabau sampai berujar demikian. Pernyataan mana lagi yang akan kamu sangkal.
Saya bukan anti-Sukarno, tapi saya dan banyak orang Minang tentu tidak respect dengan Sukarno setelah apa yang telah dia lakukan. Sukarno banyak menzolimin orang Minang dari membunuh 30.000 nyawa orang Sumatera Tengah (paling banyak Minangkabau) saat PRRI. Menceritakan omong-kosong tentang kerajaan Majapahit yang menguasai Sumatera, padahal bukti-bukti tentang itu tidak jelas. Serta memecah Sumatera Tengah sehingga komunitas Minang  menyusut dan perlahan-lahan menjawanisasikan budaya-budaya lainnya. Bhineka Tunggal Ika hanya pajangan dinding.
Mungkin teman-teman Jawa akan shock mendengar penuturan ini, mereka harus tau,- Kalau Sukarno juga Gus Dur, tidak pernah populer di Sumatera. Hanya orang Jawa yang mendewakan Sukarno, sedangkan kita orang Sumatera muak ketika dia memanggil dirinya Paduka Raja. Sejak kapan Indonesia yang republik berubah menjadi Monarki.
Setelah ketak ketik panjang lebar, terkadang memang lebih menyenangkan hidup diluar Indonesia, tanpa menyandang embel-embel kesukuan, bukannya nggak bangga dengan suku sendiri….  hanya, tampaknya hidup lebih bebas dan tenang tanpa beban stereotype.

Oh ya...tulisan ini bukan bermaksud kesukuan/ras, tapi hanya tulisan untuk memperkaya khazanah tipe suku di Indonesia. Kurang lebihnya mohon maaf, dan semoga pembaca dapat menambah ilmunya.